Sunday, June 16, 2013

Full Skill Vs Full Ijazah…(SMK Vs SMA)


Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) dari waktu ke waktu sebanding dengan pertumbuhan perekonomian bangsa. Dunia profesi semakin menjadi daya saing bagi individu-individu yang akan terjun ke dunia kerja. Namun pada kenyataannya, sebagian besar perusahaan swasta atau bahkan instansi pemerintah sekalipun di Indonesia memiliki kriteria perekrutan dan penempatan SDM yang berbeda-beda. Ada yang berdasarkan keahlian spesifik (FuLL Skill) dan ada yang hanya berdasarkan kepemilikan ijazah (FuLL certificated/ijazah). Hal tersebut terjadi, karena adanya “subjektivitas” pandangan personal dari senior ataupun petugas pengelola SDM di instansi terkait, baik dalam perekrutan maupun penempatan. Hal itu akan menjadi investasi yang sangat riskan dan berpotensi merugikan baik secara personal pekerja maupun instansi/perusahaan, karena kemungkinan pekerja bekerja tanpa passion. Dikotomi tersebut telah lama berkembang dan menjadi kultur di kehidupan sosial Indonesia, yang awalnya dimulai dari perseteruan “pandangan sempit” beberapa kelompok masyarakat mengenai pendidikan jenjang menengah, sehingga melahirkan istilah perseteruan tersebut (FuLL Skill Versus FuLL certificated/ijazah).

Sebelum SMK menjadi idola Masyarakat menganggap SMK sulit untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (Perguruan Tinggi). Dalam dunia kerja, lulusan SMK dianggap bidang yang sempit karena keahlian yang diajarkan SMK sangat spesifik Dalam status sosial, SMK sering dianggap kurang bergengsi.

Sementara bagi SMA sebagai sekolah “yang tidak jelas” dan berbiaya lebih mahal. Mereka beranggapan, SMA adalah sekolah tanpa keahlian karena pelajarannya lebih banyak teori dan bersifat umum. Lulusan SMA dianggap harus melanjutkan ke perguruan tinggi agar dapat diterima di dunia kerja, jika tidak maka akan sulit diterima kerja.
Itulah perseteruan kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia yang “berpandangan sempit”. Sebaiknya kita harus merubah/mereformasi mindset dari kedua kelompok tersebut, karena akan menjadi momok menakutkan yang akan terwariskan bagi generasi-generasi selanjutnya.

SEKOLAH MENENGAH ATAS
SMA yang lebih banyak diajarkan ilmu murni melalui teori juga sangat penting untuk menunjang ilmu terapan terutama dalam hal pengembangan. SMA memang terlihat jelas diarahkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi/Perguruan Tinggi (Full certificated/ijazah), namun tidak menutup kemungkinan untuk memasuki dunia kerja. Karena dewasa ini Dunia kerja/profesi/bisnis sudah sangat luas bukan hanya berada pada bidang teknis saja, namun juga pada bidang keilmuan, teoritis dan sebagainya yang bersifat general. Sebagai contoh, dunia kerja jurnalistik/publikasi yang banyak mengeksplorasi dan mengkomparasi teori-teori. SMA di Indonesia juga memiliki prestasi yang membanggakan dan terkenal langganan juara Olimpiade tingkat Internasional untuk ilmu murni (seperti fisika, matematika dan sebagainya). Ilmu-ilmu murni tersebut juga berguna dalam dunia kerja, sebagai dasar-dasar ilmu teknis terapan, problem solving dan pengembangan. SMA yang lebih banyak mempelajari teori ilmu murni, juga bukan berarti sekolah tanpa keahlian, karena banyak SMA yang mendukung serta memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan diri dalam menambah keahlian di luar jam pelajaran, yaitu melalui kegiatan ektrakulikuler. Banyak juga siswa-siswa SMA yang bisa berprestasi, baik tingkat nasional maupun internasional pada bidang lain di luar mata pelajaran utamanya

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
Program SMK bisa menjadi solusi terdekat yang aplikatif untuk mengatasi pengangguran muda di Indonesia yang saat ini angkanya menjadi salah satu tertinggi di Asia. Pemerintah ataupun instansi pendidikan swasta di Indonesia yang ingin mendirikan SMK sebaiknya juga memperhatikan dan menelaah serapan kemampuan instansi profesi ataupun jejaring profesi yang minimal terdapat di area terdekat (lokal). Selain itu, perlu adanya audiensi atau komunikasi secara langsung dan berkelanjutan dengan instansi-instansi lokal maupun jejaring profesi untuk melihat gambaran secara riil kebutuhan SDM kejuruan, baik dari segi kuantitas maupun kriteria kualitas secara spesifik dan detail. Hal tersebut agar peserta didik SMK tidak hanya sekedar belajar di sekolahnya saja, namun juga dilatih dan dibina pada atmosfer keahliannya secara nyata karena itulah esensi dari Sekolah Menengah Kejuruan. Karena lulusan SMK sangatlah berharga keterampilannya untuk Dunia Kerja, maka penyelenggara SMK harus dapat mengarahkan dengan baik dan tepat.
Sebagai contoh, suatu daerah yang memiliki potensi dalam dunia pariwisata, maka SMK yang tepat adalah SMK Pariwisata. Selanjutnya, perlu ada komunikasi dengan beberapa perusahaan/unit usaha/instansi setempat yang siap menampung baik dalam pendidikan magang hingga perekrutan SDM tenaga kerja. Penyiapkan Tenaga pengajar dan pembina/pembimbing dari kalangan keprofesiannya serta penyediaan saraan pendukung, yang melibatkan instansi yang erat kaitannya dengan dunia Pariwisata. Dari mulai instansi pemerintah (Dinas Pariwisata setempat), tempat/wahana pariwisata setempat, usaha penginapan (hotel, losmen, motel dan sebagainya), usaha perjalanan (travel) hingga ke Lini usaha pendukung pariwisata seperti rumah makan dan oleh-oleh, dapat ikut andil dalam pembangunan SMK Pariwisata setempat. Sebagai alternatif disediakan pula program-program dan sponsorship kewirausahaan di bidang ke-pariwisataannya
Kesimpulannya adalah Sekolah Kejuruan (SMK) maupun Sekolah Umum (SMA), sama-sama diperlukan oleh bangsa Indonesia bahkan oleh seluruh bangsa di dunia. SMA dan SMK saling melengkapi dan saling menunjang. Maka, sebaiknya “perseteruan” FULL SkiLL (diwakili SMK) Vs FULL Ijazah (diwakili SMA) harus segera diakhiri dan berakhir dengan seri/seimbang (kesetaraan). Langkah kesetaraan tersebut antara lain, meningkatkan pemahaman positif masyarakat tentang SMK, yang dirasa masih minim dan menyetarakan dengan pandangan tentang SMA. Hal tersebut juga harus sejalan dengan peningkatan kapasitas kuantitas dan kualitas SMK yang sesuai kebutuhan SDM berkeahlian spesifik di Dunia Kerja saat ini dan masa mendatang yang terukur. Namun, proses peningkatan SMK tersebut, bukan berarti dengan mengenyampingkan ataupun mereduksi sekolah umum (SMA).

0 comments:

Post a Comment