Suatu hari siswa yang kritis berkata kapada gurunya dengan nada bercanda, "Bapak kan digaji, mestinya ya bekerja dengan baik". Kata-kata itu kedengaran polos namun mengandung makna yang mendalam.
Kemudian guru itu menjawab dengan bercanda juga, "Apa aku tidak usah digaji tapi tidak ngajar kamu?".
sebuah realita perbincangan yang sangat menarik untuk dijadikan inspirasi dan renungan.
Setiap
orang pasti realistis bahwa hidup ini butuh yang namanya uang, dan bagi seorang
pekerja tentu saja uang didapatkan dari apa yang telah dia kerjakan. Tetapi
terkadang uang bak dewa karena dianggap dengan banyak uang apapun bisa
dilakukan, tentunya pertanyaannya setiap orang adalah sama Bagaimana supaya
memperoleh keuntungan yang maksimal?.
Terus apa hubungannya kerja dengan uang yang
didapatkan?
Dijaman
yang serba praktis memberikan dampak yang fenomenal sekarang ini,
kemudahan-kemudahan yang diinginkan mulai mendapat tempat diruang fikir (baca
otak) setiap orang. Selain mencari kemudahan dari sisi praktis misalnya orang
lebih suka menyuap oknum tertentu untuk melancarkan urusannya , namun adakalanya
mereka mencari sisi ekonomis yaitu dengan mengeluarkan tenaga sedikit akan
tetapi mendapatkan keuntungan ekonomis (baca dapat uang) yang maksimal.
Dokter dibayar untuk membantu mengobati pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Dokter yang memiliki etos kerja bagus tidak memandang kondisi pasiennya dari sisi ekonomi, sementara yang dipentingkan adalah bagaimana pasiennya bisa sembuh dan dapat hidup lebih baik. Bukan apakah atau berapa lama saya bisa mengembalikan modal yang dahulu pernah dikeluarkan untuk biaya sekolah dan merintis usaha praktek. Dokter yang mempunyai etos kerja akan merasa berdosa dan bersalah apabila dia tidak dapat menolong pasiennya. Sementara dokter yang hanya berorientasi uang, akan berpikir bagaimana agar pasiennya tetap berada di rumah sakit untuk terus mendapatkan pengobatan.
Disetiap Negara para pekerja pendidikan (baca Guru) dibayar untuk mecerdaskan kehidupan bangsa. Di Indonesia sendiri pemerintah mengapresiasi kinerja pekerja pendidikan dengan tunjangan profesi. Tunjangan profesi sendiri dimaksudkan untuk meningkatkan profesionisme pekerja pendidikan. Namun faktanya tidak semua bisa mencicipi selain semangkuk bakso atau sepiring gado-gado sebagai perayaan telah cairnya tunjangan profesi, hal itu semakin ironis dengan kinerja yang tidak jauh lebih baik dari para pekerja yang tidak atau belum dapat tunjangan profesi.
Itu adalah sedikit contoh tentang suatu profesi meskipun masih banyak yang bisa dibicarakan semacam wakil rakyat yang tidur siang ketika sidang di gedung MPR atau Para penegak keadilan yang dibayar mahal untuk menegakkan keadilan di negeri tercinta ini namun justru membiarkan para koruptor berkeliaran
Tentu
saja pertanyaannya adalah apakah uang yang anda dapatkan sesuai dengan kerja
yang anda lakukan?
Tenang sobat, tulisan ini tidak mengkritisi jabatan atau status yang kita miliki. Namun mengajak bersama-sama merenungkan dari uang yang kita dapatkan dari kerja kita. Seseorang disebut profesional apabila mempunyai etos kerja yang tinggi
sesuai profesinya. Seorang profesional mempunyai dedikasi yang besar
untuk pembangunan masyarakat, mempunyai fungsi dan signifikansi sosial
yang tinggi. Jauh tidak bisa disebut profesional, sekalipun mempunyai
kompetensi yang sangat baik tetapi sangat mengabaikan sosial
lingkungannya, bahkan membuat moral sosial lingkungannya rusak, bagaimana kita akan mempertanggungjawabkannya apa yang kita dapat didapatkan dihadapan Tuhan yang maha kuasa.



















